Rumah Panggung Warisan Leluhur Suku Sunda Kian Ditinggalkan


Jawa Barat | Rumah panggung merupakan salah satu warisan leluhur suku Sunda. Rumah ini menjadi salah satu ciri yang membedakan tradisi suku Sunda dengan suku lainnya di Indonesia. 

Banyak para budayawan dan sejarawan yang mengatakan bahwa rumah panggung memiliki makna dan sejarah tersendiri bagi masyarakat Sunda. 

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, menerangkan pada zaman dahulu kala, rumah ini dijadikan sebagai tempat perlindungan dari binatang buas. 

Dengan bentuk rumah yang meninggi, nenek moyang suku Sunda akan terlindungi dari gangguan hewan-hewan buas yang masih ada pada waktu itu.

Namun, semakin meningkatnya perkembangan zaman, tradisi membangun rumah panggung kian ditinggalkan oleh masyarakat Sunda sendiri. 

Banyaknya model rumah modern yang terbuat dari bahan semen dan batu menjadi daya tarik tersendiri bagi kebanyakan masyarakat. Rumah-rumah modern tersebut telah menggantikan posisi rumah tradisional Sunda. 

Banyak masyarakat yang menilai bahwa rumah “gedong” –rumah yang menyerupai gedung- terlihat lebih mewah dan nyaman.

Anggapan yang salah mengenai rumah modern tersebut memperbesar anggapan bahwa rumah panggung telah ketinggalan zaman dan hanya dimiliki oleh kalangan bawah. 

Sampai hari ini, anggapan tersebut masih menjadi mainset masyarakat Sunda pada umumnya. Anggapan yang terus berkembang tersebut telah menyumbangkan dampak negatif bagi tergerusnya budaya “rumah panggung” dalam masyarakat Sunda.

Penyebab lain surutnya pembangunan rumah panggung ini disebabkan karena arsitek-arsitek di Indonesia, sekalipun orang Sunda hanya mengembangkan model rumah dengan menyesuaikan gaya modern. 

Namun demikian, ada beberapa arsitek yang menciptakan gaya rumah perpaduan modern dan klasik. Tapi tetap saja kesan rumah bergaya modern lebih terlihat dari pada rumah klasik, misalnya bahan bangunan umumnya terbuat dari semen dan batu.

Penurunan minat rumah panggung dalam masyarakat Sunda sangat jelas terlihat di hampir seluruh desa. Masyarakat banyak yang beralih minatnya pada rumah ‘gedong’ ketika melakukan pembangunan. 

Bisa dihitung berapa persen jumlah rumah panggung yang ada di desa-desa pada saat ini. Meski demikian, sebenarnya ada inovasi yang bisa dikembangkan jika masyarakat mengembalikan lagi perhatian dan kesadarannya pada rumah panggung. 

Inovasi pertama yaitu dengan menciptakan rumah panggung bergaya indah dan nyaman untuk ditempati. 

Rumah tersebut bisa dipercantik dengan bilik bergaya anyaman. Selain itu, untuk mempercantik rumah panggung, pemilik rumah juga perlu memperhatikan halaman di sekitar rumah. 

Halaman yang penuh pepohonan dan tanaman hias akan memperteduh dan memberi kenyamanan pada rumah panggung.

Inovasi kedua yaitu memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa rumah panggung tidak ketingalan zaman. Merubah pola pikir masyarakat mengenai rumah panggung ini harus diikuti dengan pengembangan arsitektur rumah panggung oleh para arsitek. 

Peran arsitek dalam mengambangkan gaya 100 % bahan rumah panggung sangat penting untuk mempertahankan esensi rumah panggung itu sendiri. Pengembangan bisa dilakukan dengan cara merubah gaya rumah yang semula dinilai ketinggalan zaman menjadi lebih menarik.

Sebenarnya, masih banyak cara yang bisa dikembangkan untuk memelihara tradisi rumah panggung di dalam masyarakat. Inovasi-inovasi yang disampaikan sebelumnya hanya sebagian kecil dari ratusan inovasi yang bisa dikembangkan. 

Selain itu, salah satu hal yang harus ditanamkan dalam benak masyarakat yaitu bagaimana supaya tradisi Indonesia tidak benar-benar musnah ditelan zaman. (**)

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Rumah Panggung Warisan Leluhur Suku Sunda Kian Ditinggalkan
  • Rumah Panggung Warisan Leluhur Suku Sunda Kian Ditinggalkan
  • Rumah Panggung Warisan Leluhur Suku Sunda Kian Ditinggalkan
  • Rumah Panggung Warisan Leluhur Suku Sunda Kian Ditinggalkan
  • Rumah Panggung Warisan Leluhur Suku Sunda Kian Ditinggalkan
  • Rumah Panggung Warisan Leluhur Suku Sunda Kian Ditinggalkan
Posting Komentar