Mengenal Sejarah Singkat Rumah Panggung Adat Sunda


Jawa Barat | Sejarah rumah panggung Sunda berakar dari kebutuhan masyarakat Sunda untuk melindungi diri dari binatang buas dan kondisi alam seperti hujan dan matahari terik, sehingga mereka membuat rumah di atas panggung. 

Selain fungsi praktis, rumah ini juga memiliki makna filosofis yang mendalam, seperti kepercayaan pada tiga dunia (konsep tritangtu) dan penghormatan terhadap leluhur dengan tidak menempelkan rumah ke tanah. 

Dilansir dari berbagai sumber, jumah panggung ini berkembang dari saung sederhana menjadi bangunan tradisional yang reflektif terhadap alam dan budaya Sunda. 

Asal-usul dan perkembangan rumah panggung bermula dari pengalaman alam yang diperkirakan berawal dari kebiasaan masyarakat Sunda di pegunungan yang memanjat pohon untuk berlindung dari binatang buas.

Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi membuat atap sederhana dan saung di sekitar lahan pertanian.

Rumah panggung sendiri dimaknai sebagai ungkapan "teu beunang dirangkong kolong". Dimana, menunjukkan bahwa konsep rumah berkolong sudah ada sejak lama di kalangan masyarakat Sunda.

Seiring perubahan pola hidup dari nomaden menjadi menetap, kebutuhan akan tempat tinggal yang permanen mendorong pengembangan rumah panggung yang lebih kokoh. 

Filosofi dan makna rumah panggung terkonsep dari tritangtu, artinya rumah panggung merefleksikan konsep tritangtu, yakni pandangan bahwa dunia terbagi tiga (bumi bawah, tengah dan atas). 

Kolong rumah melambangkan bumi bawah, lantai rumah untuk ruang keluarga adalah bumi tengah, dan atap adalah bagian atas.

Pondasi rumah panggung yang tidak menempel ke tanah ini diartikan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan orang yang telah meninggal dunia.

Kemudian, penggunaan material alami seperti kayu, bambu dan ijuk, serta minimnya penggunaan paku, menunjukkan keselarasan dan keharmonisan masyarakat Sunda dengan alam sekitarnya. 

Fungsi dan manfaat rumah panggung, selain untuk terhindar dari binatang buas, rumah panggung juga berfungsi melindungi penghuninya dari hujan deras, angin dan panas matahari.

Beberapa rumah panggung, seperti yang ada di Kampung Naga, dirancang tahan gempa berkat konstruksi pondasinya yang menggunakan tumpukan batu tanpa semen, memungkinkan air meresap dan mengurangi risiko kerusakan saat gempa. (**)

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Mengenal Sejarah Singkat Rumah Panggung Adat Sunda
  • Mengenal Sejarah Singkat Rumah Panggung Adat Sunda
  • Mengenal Sejarah Singkat Rumah Panggung Adat Sunda
  • Mengenal Sejarah Singkat Rumah Panggung Adat Sunda
  • Mengenal Sejarah Singkat Rumah Panggung Adat Sunda
  • Mengenal Sejarah Singkat Rumah Panggung Adat Sunda
Posting Komentar